Riya’
Ulama menjelaskan berbagai macam pengertian riya’, di mana intinya adalah melakukan ibadah bukan untuk tujuan beribadah itu sendiri (yakni meraih ridha Allah-red), melainkan tujuan dunia atau selain Allah.
Ulama ahli tafsir, Al Qurthubi menjelaskan, “Hakikat riya’ adalah mencari apa yang ada di dunia dengan ibadah. Dan pada asalnya, riya’ adalah mencari tempat di hati manusia” (lihat Tafsir Al Qurthubi, 20/144)
Beberapa bahaya Riya’
Bahaya riya’ sangat banyak, kami sebutkan saja beberapa di antaranya:
1.Menghapus pahala amal
Orang yang riya’ pahala amalnya akan sia-sia dan tidak bernilai. Sebagaimana orang yang bersedekah, tetapi hanya mengharapkan pujian dari manusia sebagai orang yang dermawan.
2. Riya lebih berbahaya bagi manusia dari fitnah Dajjal, padahal fitnah dajjal merupakan fitnah yang besar, dan setiap nabi memperingatkan umatnya akan bahaya Dajjal
Dari Abu Sa’id Al Khudri, beliau berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah keluar menemui kami dan kami sedang mengingatkan akan (bahaya) Al Masih Ad Dajjal.
Lantas beliau bersabda, “Maukah kukabarkan pada kalian apa yang lebih aku takutkan bagi kalian menurutku dibanding dari fitnah Al Masih Ad Dajjal?” “Iya”, para sahabat berujar.
Beliau pun bersabda, “Syirik khofi (syirik yang samar) di mana seseorang shalat lalu ia perbagus shalatnya agar dilihat orang lain.” (HR. Ibnu Majah. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa haditsnya hasan)
3. Riya’ –sekalipun syirik kecil- dosanya lebih besar dibandingkan dosa-dosa besar selain kesyirikan, sehingga pelakunya adalah orang yang pertama kali dimasukkan ke neraka
Berikut hadits yang menceritkan bahwa orang yang berperang jihad karena riya’, menuntut ilmu dan mengajar agama karena riya’, dan sadaqah karena riya’, mereka pertama kali masuk neraka :
Dari Abi Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya manusia pertama yang diadili pada hari kiamat adalah orang yang mati syahid di jalan Allah. Dia didatangkan dan diperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatan (yang diberikan di dunia), lalu ia pun mengenalinya. Allah bertanya kepadanya : ‘Amal apakah yang engkau lakukan dengan nikmat-nikmat itu?’ Ia menjawab : ‘Aku berperang semata-mata karena Engkau sehingga aku mati syahid.’ Allah berfirman : ‘Engkau dusta! Engkau berperang supaya dikatakan seorang yang gagah berani. Memang demikianlah yang telah dikatakan (tentang dirimu).’ Kemudian malaikat diperintahkan agar menyeret orang itu atas mukanya (tertelungkup), lalu dilemparkan ke dalam neraka.
Berikutnya orang (yang diadili) adalah seorang yang menuntut ilmu dan mengajarkannya serta membaca Al Qur`an. Ia didatangkan dan diperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatannya, maka ia pun mengakuinya. Kemudian Allah menanyakannya: ‘Amal apakah yang telah engkau lakukan dengan kenikmatan-kenikmatan itu?’ Ia menjawab: ‘Aku menuntut ilmu dan mengajarkannya, serta aku membaca Al Qur`an hanyalah karena Engkau.’ Allah berkata : ‘Engkau dusta! Engkau menuntut ilmu agar dikatakan seorang ‘alim (yang berilmu) dan engkau membaca Al Qur`an supaya dikatakan (sebagai) seorang qari’ (pembaca Al Qur`an yang baik). Memang begitulah yang dikatakan (tentang dirimu).’ Kemudian malaikat diperintahkan agar menyeretnya di atas mukanya dan melemparkannya ke dalam neraka.
Berikutnya (yang diadili) adalah orang yang diberikan kelapangan rezeki dan berbagai macam harta benda. Ia didatangkan dan diperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatannya, maka ia pun mengenalinya (mengakuinya). Allah bertanya : ‘Apa yang engkau telah lakukan dengan nikmat-nikmat itu?’ Dia menjawab : ‘Aku tidak pernah meninggalkan shadaqah dan infaq pada jalan yang Engkau cintai, melainkan pasti aku melakukannya semata-mata karena Engkau.’ Allah berfirman : ‘Engkau dusta! Engkau berbuat yang demikian itu supaya dikatakan seorang dermawan (murah hati) dan memang begitulah yang dikatakan (tentang dirimu).’ Kemudian malaikat diperintahkan agar menyeretnya di atas mukanya dan melemparkannya ke dalam neraka.’”
Dan masih banyak lagi bahaya riya’ yang lainnya.
Beberapa penyebab timbulnya riya’
Riya’ dapat timbul karena hatinya memang tidak ikhlas dan bukan hati yang berjiwa hanif, yang mencari kebenaran dan ridha Allah semata.
Di antara sebabnya yaitu:
1. Senang mendapat pujian dan sanjungan atau sering mencari pujian manusia
2. Takut terhadap celaan manusia
3. Rakus dan tamak terhadap rezeki, nikmat dan kedudukan orang lain.
Nasib amal ibadah terkait dengan riya’
Amal ibadah terkait dengan riya’ ada beberapa rincian:
Pertama:
Sejak awal ibadah memang tujuannya adalah riya’ dan tidak ikhlas. Ini jelas amalnya tidak diterima
Kedua:
Riya’ datang di tengah-tengah amal ibadah. Ini ada dua kemungkinan:
1. Ibadah yang tercampur riya’ namun tidak terkait dengan ibadah yang lain
2. Ibadah awal riya’ berkaitan dengan ibadah akhirnya
Misalnya rak’aat pertama shalat, dijalani dengan ikhlas, dan raka’at keduanya tidak ikhlas. Maka ini dirinci :
1. Jika ia berusaha melawan riya’ tersebut, maka insya Allah mendapat pahala
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya, Allah memaafkan dari umatku apa yang diucapkan oleh jiwanya (betikan hati) selama belum diamalkannya1 atau diucapkannya (dengan lisan)”
1. Jika ia tidak berusaha melawan, bahkan menikmati riya’ tersebut, amal shalatnya bisa tidak diterima semuanya (karena raka’at pertama dan raka’at kedua masih dalam satu rangkaian ibadah shalat –red)
Ketiga:
Rasa senang mendengar pujian datang setelah selesai ibadah yang telah dikerjakan dengan ikhlas. Ini tidak mempengaruhi ibadah tersebut dan ibadahnya tetap sah. Bahkan jika muncul rasa senang akibat telah melaksanakan ketaatan, maka ini bukan termasuk riya’, akan tetapi kabar gembira yang disegerakan bagi kaum muslimin.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Itu adalah kabar gembira yang disegerakan untuk seorang mukmin.” (lihat Majmu’ Fatawa wa Rasail Fadhilatusy Syaikh Ibnu Utsaimin)Amal ibadah terkait dengan riya’ ada beberapa rincian:
Pertama:
Sejak awal ibadah memang tujuannya adalah riya’ dan tidak ikhlas. Ini jelas amalnya tidak diterima
Kedua:
Riya’ datang di tengah-tengah amal ibadah. Ini ada dua kemungkinan:
1. Ibadah yang tercampur riya’ namun tidak terkait dengan ibadah yang lain
2. Ibadah awal riya’ berkaitan dengan ibadah akhirnya
Misalnya rak’aat pertama shalat, dijalani dengan ikhlas, dan raka’at keduanya tidak ikhlas. Maka ini dirinci :
1. Jika ia berusaha melawan riya’ tersebut, maka insya Allah mendapat pahala
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya, Allah memaafkan dari umatku apa yang diucapkan oleh jiwanya (betikan hati) selama belum diamalkannya1 atau diucapkannya (dengan lisan)”
1. Jika ia tidak berusaha melawan, bahkan menikmati riya’ tersebut, amal shalatnya bisa tidak diterima semuanya (karena raka’at pertama dan raka’at kedua masih dalam satu rangkaian ibadah shalat –red)
Ketiga:
Rasa senang mendengar pujian datang setelah selesai ibadah yang telah dikerjakan dengan ikhlas. Ini tidak mempengaruhi ibadah tersebut dan ibadahnya tetap sah. Bahkan jika muncul rasa senang akibat telah melaksanakan ketaatan, maka ini bukan termasuk riya’, akan tetapi kabar gembira yang disegerakan bagi kaum muslimin.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Itu adalah kabar gembira yang disegerakan untuk seorang mukmin.” (lihat Majmu’ Fatawa wa Rasail Fadhilatusy Syaikh Ibnu Utsaimin)
قُلْ إِنَّ صَلاَتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ “Katakanlah, sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah Pemelihara alam semesta.“ (QS. Al-An‘âm/6: 162)
Dari ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallaahu ‘anhu dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, Beliau bersabda,
لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ قَالَ رَجُلٌ إِنَّ الرَّجُلَ يُحِبُّ أَنْ يَكُونَ ثَوْبُهُ حَسَنًا وَنَعْلُهُ حَسَنَةً قَالَ إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ
“Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji sawi.” Ada seseorang yang bertanya, “Bagaimana dengan seorang yang suka memakai baju dan sandal yang bagus?” Beliau menjawab, “Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan. Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain.“ (HR. Muslim)
Sumber : Abu Labib SKBS
No comments:
Post a Comment