Apa itu Sum'ah?
Sum’ah adalah diperdengarkan kepada orang lain, adapun secara istilah yaitu beribadah dengan benar dan ikhlas karena Allah, kemudian menceritakan amal perbuatannya kepada orang lain
sum’ah secara istilah adalah sikap seorang muslim yang membicarakan atau memberitahukan amal shalihnya, yang sebelumnya tidak diketahui atau tersembunyi kepada orang lain, supaya dirinya mendapatkan kedudukan, penghargaan, atau mengharapkan keuntungan materi. Syeikh Ahmad Rifa’I dalam kitabnya Ri’ayah Himmah, Juz 2 menjelaskan:
لَا تَظْهَرِ الْفَضْلَةَ كَا لْعِلْمِ وَالطَّاعَةِ
“Janganlah kalian menunjukkan keutamaan (kepandaianmu), seperti ilmu dan ketaatan karena banyak melaksanakan amal sholih kepada orang lain supaya mereka memuliakanmu”.
Dalam makalahnya, beliau menjelaskan bahwa adakalanya kita menunjukkan ketaatan kita pada orang lain, tetapi dalam hal-hal tertentu, seperti:
وَأَمَّا إِظْهَارُهَا لِيُقْتَدَى بِهِ وَلِيَرْ غَبَ النَّاسَ فِى الْخَيْرِ فَهُوَ أَفْضَلُ مِنْ إِسْرَارِهَا اِنْ أَمَنَ شَوَائِبُ الرِّياَءِ
“Adapun menunjukkan ketaatan kita kepada orang lain dengan tujuan supaya orang meniru perbuatan kita (mengajak kepada kebaikan), itu lebih baik (tidak berdosa) daripada kita menyembunyikannya, tetapi jika dalam hati kita merasa hebat maka akan menjadi riya’(sombong)”
أَمَّا عَلىَ الْإِعْتِرَافِ بِالنِّعْمَةِ فَحَسَنْ
“Dan sekiranya kita memperlihatkan kemuliaan kita (nikmat), sebagai pertanda rasa syukur pada-Nya maka lebih bagus dan tidak termasuk ke dalam perkara ‘ujub, karena kemuliaan yang kita dapatkan adalah anugerah Allah
Dalam Al-Qur’an Allah telah mengingatkan kepada kita mengenai sifat sum’ah dan riya’ ini:
يَاأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُواْ لاَ تُبْطِلُوْا صَدَقَاتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالْاَذَى كَالَّذِىْ يُنْفِقُ مَالَهُ رِئَاءَ النَّاسِ …
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia…” (QS. Al-Baqarah : 264).
قَالَ النَّبِيُّ إِنَّا أَكْرَمُ الْأَوَّلِيْنَ وَالْأَخِرِيْنَ لَا فَخْرَ لَنَا
Rasul SAW bersabda: “Sesungguhnya aku (Muhammad) adalah yang paling mulia diantara nabi-nabi yang terdahulu ataupun yang terakhir, dan tidak berdosa (takabbur) bagiku, karena Allah SWT telah memberikan jaminan sebagai seorang utusan untuk mengajak kepada jalan kebenaran”.
Hadis diatas jangan kita fahami secara etimologi, karena nanti akan timbul penafsiran bahwa rasul SAW menyuruh untuk berbuat riya’ dan sum’ah, tetapi mafhum mukhalafah dari makna tersiratnya adalah karena keluhuran budi pekerti beliau jadi secara otomatis dalam hatinya sudah tidak ada penyakit-penyakit hati (madzmumah).
surat Al-Najm ayat 32:
فَلاَ تُزَكُّوْا أَنْفُسَكُمْ
“……, Maka Janganlah kamu
menganggap dirimu suci,….”
Rasulullah SAW:“Barangsiapa memperdengarkan (menyiarkan) amalnya, maka Allah akan menyiarkan aibnya, dan barangsiapa beramal karena riya’, maka Allah akan membuka niatnya (dihadapan manusia pada hari kiamat kelak)”
Sumber : Abu Labib SKBS

No comments:
Post a Comment