Friday, October 30, 2020

Ujian Ke Burukan dan Kebaikan

Dalam menjalani kehidupan di dunia ini manusia di uji oleh Allah dengan dua cara (keadaan) yakni dgn *keburukan dan kebaikan* 
QS Al Anbiya' ( 21:35 )

Keduanya punya potensi atau bobot yg sama utk menguji setiap hamba apakah lulus atau tidak nantinya. 
Untuk bisa menyimpulkan mana yg lebih berat, perlu kajian mendalam karena masing2 ada dalil dan argumentasinya. 

Yang ditulis oleh *Ustadz Zahir al Minangkabawi* itu bagus karena beliau menyampaikan beberapa hadits dari Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam sehingga diambil kesimpulan bahwa ujian kekayaan itu lebih berat daripada kemiskinan. 
Ya boleh2 saja itu hak beliau utk memahami,  berpendapat dan berkesimpulan seperti itu, tdk ada yg salah dlm hal ini. 
Tapi ada sebagian ustadz yg memahami justru sebaliknya, ujian kemiskinan itu lebih berat dari kekayaan tentu juga didukung dgn dalil yg kuat.
- Semisal hadits tentang 10 (sepuluh) sahabat nabi yg dijamin masuk surga
1. Abu Bakar shidiq,  2. Umar bin Khotob, 3. Usman bin Affan, 4. Ali bun Abi Tholib, 5. Zubair bin Awwam, 6. Tholhah bin ubaidillah, 7. Abdurrahman bin Auf, 8. Abu Ubaidah bin al Jarroh, 9. Saad bin Abi Waqosh, 10. Said bin Zaid.
Jika kita baca shiroh ternyata dari 10 sahabat yg dijamin masuk surga itu mayoritasnya orang2 kaya, kecuali bbrp orang seperti Ali,  Zubair dan Said bin Zaid. 
- Hadits tentang perintah nabi utk berlindung dari kefakiran dan belitan hutang
- Hadits tentang muslim yg kuat lebih baik (dicintai Allah) dari muslim yg lemah
- Hadits tentang larangan minta-minta. 
- Hadits tentang amalan dzikir ba'da sholat fardhu yakni tasbih, tahmid dan takbir yg masing2 dibaca 33 x
Dll. 
Secara objektif bisa dipahami bahwa ujian berupa *kekayaan dan kemiskinan*  itu sebenarnya sama2 mengandung resiko, masing2 punya peran dan berpotensi utk membuat seorang hamba lulus atau gagal menjalaninya tergantung pada *kondisi keimanan* yg bersangkuran.
Sehingga pilihannya menjadi relatif, setiap orang akan menyimpulkan sesuai dgn mindset dan pengalaman hidupnya.

Justru disini unsur terpenting dan menentukan terletak pada kwalitas (kadar) iman seseorang.

Contoh kecil semisal tentang kondisi masyarakat yg tinggal dilingkungan kumuh dgn yg tinggal di perumahaan. 
Rata-rata masjid di perumahan jama'ah sholatnya lebih banyak daripada masjid dilingkungan kumuh,  ini mungkin salahsatu indikasi bahwa fitnah (ujian) kemiskinan itu lebih berat daripada kekayaan. 
Wallahu A'lam.

No comments:

Post a Comment